Rabu, 20 Januari 2010

PENGGUNAAN ANTIBIOTIK PADA INFEKSI SALURAN KEMIH NON-KOMPLIKASI


Pendahuluan

Infeksi Saluran Kemih (ISK) adalah ditemukannya mikroorganisme dalam urine yang tidak diperhitungkan sebagai kontaminasi, dan potensial untuk menyebar ke jaringan saluran kemih dan jaringan lain yang berdekatan. ISK non-komplikasi adalah infeksi yang terjadi pada saluran kemih yang normal, sedangkan ISK komplikasi adalah infeksi yang terjadi pada saluran kemih yang abnormal ( misal : abnormalitas kongenital, batu saluran kemih, pemakaian kateter, hyperthropy prostat ).

Beberapa gejala ISK antara lain : rasa ingin berkemih yang sering tetapi urine yang keluar hanya sedikit (istilah jawa : anyang-anyangen) dan rasa nyeri atau rasa terbakar di daerah kandung kemih dan urethra selama berkemih. Adanya warna merah pada urine menunjukkan terdapat darah pada urine. Apabila infeksi sudah mengenai ginjal, gejala yang muncul antara lain : nyeri di daerah panggul, demam, mual dan muntah.

Penyebab utama ISK non-komplikasi adalah bakteri Escherichia coli (85%), Staphylococcus saphrophyticus (5-15%), Klebsiella pneumoniae, Proteus sp., Pseudomonas aeruginosa dan Enterococcus sp. (5-10%).



Sasaran Terapi

Sasaran terapi pada Infeksi Saluran Kemih adalah mikroorganisme penyebab infeksi.



Tujuan Terapi

Tujuan terapi ISK adalah mencegah atau mengobati akibat sistemik dari infeksi, membunuh mikroorganisme penyebab infeksi dan mencegah terjadinya infeksi ulangan.



Strategi Terapi

Terapi tanpa obat pada ISK adalah minum air dalam jumlah banyak agar urine yang keluar juga meningkat.

Pengobatan ISK adalah menggunakan antibiotik. Idealnya, antibiotik yang digunakan harus dapat ditoleransi dengan baik, mencapai konsentrasi tinggi dalam urine dan mempunyai spektrum aktivitas terhadap mikroorganisme penyebab infeksi. Pemilihan antibiotik untuk pengobatan didasarkan pada tingkat keparahan, tempat terjadinya infeksi dan jenis mikroorganisme yang menginfeksi.



Antibiotik yang digunakan pada Infeksi Saluran Kemih non-komplikasi

TRIMETHOPRIM-SULFAMETHOXAZOLE

Nama Generik : Co-trimoxazole

Nama Dagang : Bactrim® (Roche), Kaftrim® (Kimia Farma), Inatrim® (Indo Farma), Primadex® (Dexa Medica), Sanprima® (Sanbe), Triminex® (Konimex)

Indikasi : Infeksi Saluran Kemih, Infeksi Saluran Pencernaa, Infeksi Saluran Pernapasan, Infeksi kulit

Kontra Indikasi : hipersensitif terhadap komponen obat, anemia megaloblastik

Bentuk Sediaan :
Tablet ( 80 mg Trimethoprim – 400 mg Sulfamethoxazole
Kaplet Forte (160 mg Trimethoprim – 800 mg Sulfamethoxazole )
Sirup suspensi ( Tiap 5 ml mengandung 40 mg Trimethoprim – 200 mg Sulfamethoxazole )

Dosis :
Anak diatas 2 bulan : 6-12 mg trimethoprim/ kg/ hari, terbagi dalam 2 dosis (tiap 12 jam)
Dewasa : 2 x sehari 2 tablet atau 2 x sehari 1 kaplet forte

Efek Samping : mual, muntah, hilang nafsu makan, kemerahan pada kulit

Resiko Khusus : defisiensi G6PD, defisiensi asam folat, wanita hamil dan menyusui, gangguan fungsi hati, gangguan fungsi ginjal.



CIPROFLOXACIN

Nama Generik : Ciprofloxacin

Nama Dagang : Ciproxin® (Bayer), Interflox® (Interbat), Nilaflox® (Nicholas), Quidex® (Ferron), Renator® (Fahrenheit), Scanax® (Tempo Scan Pasific)

Indikasi : Infeksi Saluran Kemih, Sinusitis Akut, Infeksi Kulit, Infeksi Tulang dan Sendi, Demam Typhoid, Pneumonia Nosokomial

Kontra Indikasi : Hipersensitif terhadap Ciprofloxacin atau golongan quinolon lain

Bentuk Sediaan : Tablet, kaplet (250 mg, 500 mg, 750 mg); Tablet lepas lambat ( 500 mg, 1000 mg )

Dosis : Dewasa : 250 mg tiap 12 jam

Efek Samping : ruam kulit, diare, mual, muntah, nyeri perut, sakit kepala, susah tidur, jantung berdebar-debar, halusinasi

Resiko Khusus : Pasien dengan gangguan ginjal, Wanita hamil dan menyusui.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar